Agrinex 2026 Usung Tema “Feed The World”, Dorong Indonesia Jadi Kekuatan Pangan Dunia

Related Articles

JAKARTA – Ketegangan geopolitik global, perubahan iklim, dan semakin menyusutnya lahan pertanian menjadi tantangan besar bagi ketahanan pangan dunia. Dalam situasi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang strategis untuk tidak hanya mencapai swasembada pangan, tetapi juga menjadi salah satu pemasok pangan global di masa depan.

Pandangan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Bidang Pemasaran, Promosi, Inovasi, dan Pengembangan Produk UMKM Kadin Indonesia sekaligus Ketua Penyelenggara Indonesia International Agribusiness Expo (Agrinex) 2026, Rifda Ammarina, saat mengumumkan penyelenggaraan Agrinex Expo 2026 pada 23-25 Oktober 2026 di Assembly Hall Jakarta International Convention Center (JICC).

Mengusung tema “Feed The World”, Agrinex 2026 dirancang sebagai wadah kolaborasi berbagai pemangku kepentingan sektor pertanian dan agribisnis untuk menjawab tantangan pangan global sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara agraris yang memiliki potensi besar di pasar internasional.

“Dunia saat ini sudah berada dalam situasi perang yang bisa makin besar, juga perubahan iklim dengan dampak yang semakin membatasi ruang logistik pangan. Dengan kebutuhan pangan yang terus meningkat akibat pertumbuhan penduduk dunia dan berkurangnya lahan pertanian, maka pengembangan teknologi pangan dan pertanian serta kemandirian pangan setiap negara menjadi keharusan,” ujar Rifda, Selasa (16/6/2026).

Baca Juga:   Baja China Serbu ASEAN, SEAISI Dorong Pemerintah Perketat Regulasi
Pameran Agrinex 2025 menjadi ajang kolaborasi lintas sektor dalam mendorong modernisasi pertanian dan penguatan rantai pasok pangan nasional menuju swasembada pangan. (Foto: Istimewa)

 

Menurutnya, kondisi global saat ini menuntut setiap negara untuk memperkuat sistem pangan nasional agar tidak bergantung pada pasokan dari luar negeri. Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai memiliki modal besar berupa sumber daya alam, lahan pertanian, serta keragaman komoditas pangan yang mampu menjadi fondasi menuju kedaulatan pangan.

Rifda menilai komitmen pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menjadi faktor penting dalam mempercepat transformasi sektor pangan nasional. Berbagai program strategis seperti pengembangan kawasan pangan, Makan Bergizi Gratis (MBG), Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga berbagai dukungan kepada pelaku UMKM pertanian dinilai menjadi bagian dari upaya besar menuju swasembada pangan.

Ia juga menyinggung keberhasilan sektor perkebunan kelapa sawit Indonesia yang kini menjadi pemain utama dunia sebagai contoh bagaimana keberpihakan kebijakan dapat mengubah lanskap industri pertanian nasional.

“Pada masa Presiden Soeharto, sawit berkembang karena adanya akses lahan, pupuk, bibit, dan berbagai insentif yang diberikan pemerintah. Hasilnya, hari ini Indonesia menjadi raja sawit dunia. Presiden Prabowo ingin mengulang keberhasilan itu, tetapi fokusnya pada pangan yang menjadi kebutuhan paling mendasar masyarakat,” katanya.

Baca Juga:   Pokemon Festival Jakarta Dimulai, Para Monster "Mengintai" di PIK
Wakil Ketua Umum Bidang Pemasaran, Promosi, Inovasi, dan Pengembangan Produk UMKM Kadin Indonesia sekaligus Ketua Penyelenggara Indonesia International Agribusiness Expo (Agrinex) 2026, Rifda Ammarina. (Foto: Istimewa)

 

Rifda optimistis Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu lumbung pangan dunia. Potensi tersebut tidak hanya berasal dari produksi beras, tetapi juga komoditas lain seperti umbi-umbian, sayuran, buah-buahan, perikanan, peternakan, rempah-rempah, hingga berbagai jenis biji-bijian yang kini semakin diminati pasar global.

“Apakah Indonesia memiliki potensi memberi makan dunia? Agrinex Feed The World akan memberikan jawabannya melalui penyelenggaraan Agrinex Expo 2026,” ujarnya.

Sebagai pameran agribisnis internasional, Agrinex 2026 akan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari sektor pertanian dan pangan, mulai dari kementerian dan lembaga pemerintah, organisasi internasional, pelaku usaha agribisnis, industri pengolahan makanan dan minuman, perusahaan mesin pertanian, perusahaan logistik dan distribusi, lembaga keuangan, hingga komunitas petani dan startup teknologi pertanian.

Penyelenggara menargetkan lebih dari 20.000 pengunjung dari kalangan pelaku usaha, investor, akademisi, pemerintah, dan masyarakat umum. Selain menjadi ajang pameran, Agrinex juga akan menjadi ruang diskusi mengenai inovasi, teknologi, investasi, serta peluang ekspor komoditas pangan Indonesia.

Baca Juga:   Menparekraf: Festival Musik Jadi Tolok Ukur Kebangkitan Ekraf Pascapandemi

Rifda menjelaskan Agrinex 2026 dirancang sebagai one-stop agribusiness event yang mengintegrasikan berbagai aspek rantai nilai pertanian, mulai dari produksi, pengolahan, teknologi, pembiayaan, pemasaran, hingga distribusi.

Pameran ini juga akan menampilkan berbagai inovasi terbaru di bidang agribisnis serta program-program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang mendukung pembangunan sektor pertanian berkelanjutan.

Dengan dukungan berbagai kementerian dan institusi pemerintah, Agrinex 2026 diharapkan menjadi platform strategis yang mampu mempertemukan pelaku usaha dan konsumen melalui konsep business-to-business (B2B) dan business-to-consumer (B2C).

Melalui tema “Feed The World”, Agrinex tidak hanya ingin menampilkan potensi pertanian Indonesia, tetapi juga mengirimkan pesan bahwa sektor pangan akan menjadi salah satu kekuatan utama Indonesia dalam menghadapi tantangan global di masa depan. Jika swasembada pangan dapat diwujudkan, Indonesia diyakini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan dunia. (cha)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img