JAKARTA – Upaya menghidupkan kembali kawasan Pasar Baru sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya diwujudkan melalui kegiatan bertajuk Wajah Baru Passer Baroe 2026 di kawasan cagar budaya Antara Heritage Center, Jakarta, Sabtu (7/2/2026). Mengusung tema Restorasi, Aspirasi, dan Kolaborasi, acara ini menghadirkan lintas komunitas, pelaku wisata, pengelola cagar budaya, hingga figur inspiratif yang merepresentasikan wajah baru kawasan tersebut.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan tur kawasan Antara Heritage Center, dilanjutkan sesi Mini Talk Show, pertunjukan musik, serta seni pertunjukan. Musisi Buzar tampil menghibur pengunjung, sementara Griya Seni Ekayana membuka acara melalui tarian penyambutan bernuansa tradisional.
Para peserta tur di Gedung Antara Heritage Center, Jakarta berfoto bersama.
Moderator diskusi, Toton Hutami, menyebut publik yang hadir beruntung karena dapat mengakses bangunan bersejarah yang belum lama ini dibuka untuk umum. “Kita beruntung bisa masuk ke sini. Karena baru sekarang gedung ini dibuka untuk publik dan juga sudah bisa disewakan untuk masyarakat,” ujar Toton, Sabtu (7/2/2026).
Dalam sesi diskusi tersebut, Sofia Prameswari dari Antara Heritage Center/Lembaga Pendidikan Antara memaparkan nilai historis bangunan yang kini menjadi pusat edukasi publik itu. Menurutnya, kompleks tersebut memiliki peran penting dalam perjalanan Kantor Berita Antara sekaligus sejarah pers nasional.

Ia menjelaskan gedung-gedung di kawasan itu semula merupakan bagian dari program kerja sama dengan Jepang dan sempat difungsikan sebagai kantor siaran. Antara tercatat memiliki empat bangunan di lokasi tersebut, yang masing-masing menyimpan kisah perjuangan insan pers di masa awal kemerdekaan.
“Di sini banyak tokoh besar pernah bekerja, termasuk Bung Karno sebelum menjadi wakil presiden. Beliau bersama rekan-rekannya berjuang dari ruangan ini,” kata Sofia.
Mini Talk Show menjadi sesi diskusi seru bagi para peserta tur untuk bertanya dan mengetahui tentang sejarah Antara Heritage Center.
Proses restorasi, lanjutnya, dilakukan dengan prinsip pelestarian, bukan modernisasi berlebihan. Lantai marmer dipoles tanpa mengubah struktur, sementara elemen-elemen lama seperti kaca dan tata ruang dipertahankan sejauh mungkin. “Ini dibentuk kembali menyerupai aslinya, bukan dimodifikasi. Kami ingin pengunjung merasakan suasana sejarahnya secara utuh,” ujarnya.
Sofia juga menambahkan, kawasan tersebut pernah menjadi pusat pelatihan jurnalistik Antara sejak dekade 1960-an hingga awal 2000-an, sebelum kini dialihfungsikan sebagai pusat arsip dan edukasi.
Founder Komunitas Wisata Kreatif Jakarta, Ira Lathief, menilai Pasar Baru memiliki keunikan tersendiri karena sejak masa lampau telah menjadi ruang pertemuan lintas etnis dan budaya.
Ia menyebut kawasan tersebut dihuni berbagai komunitas, mulai dari Tionghoa, India, Arab hingga Jepang, yang membentuk karakter kosmopolitan Jakarta tempo dulu. “Dulu kawasan ini sangat beragam. Ada orang Cina, India, Arab, bahkan ratusan pedagang. Itu yang membuat kawasan ini hidup dan punya nilai sejarah yang kuat,” ujar Ira.
Penampilan musisi, Buzar di sela acara Wajah Baru Passer Baroe 2026.
Ia juga menyoroti perubahan pascarevitalisasi, khususnya hilangnya tulisan ‘Kemerdekaan Indonesia Disiarkan dari Tempat Ini’ yang sebelumnya terpampang di area depan gedung. “Itu sebenarnya poin utama yang sangat kuat secara sejarah. Sayang setelah revitalisasi justru tidak ada lagi. Padahal itu bisa menjadi pengingat bagi generasi sekarang,” katanya.
Meski demikian, Ira menilai dinamika pembangunan tidak bisa dihindari. Ia tetap optimistis Pasar Baru memiliki peluang besar berkembang sebagai pusat wisata edukatif, terutama bila dikaitkan dengan agenda kebudayaan seperti Festival Bhinneka.
Menurut Ira, festival tersebut berfungsi sebagai ruang kolaborasi dan perayaan toleransi lintas agama, khususnya bagi generasi muda. “Festival ini tujuannya merayakan keberagaman dan kebinekaan. Ini penting untuk anak muda agar mereka memahami nilai toleransi,” ujarnya.
Ia menegaskan, semangat festival sejalan dengan sejarah kawasan Pasar Baru yang sejak lama dikenal kosmopolitan. “Kawasan ini dari dulu sudah kosmopolitan. Jejak-jejaknya masih terlihat sampai sekarang. Itu yang membuat tempat ini punya nilai sejarah yang unik,” tutupnya.
Acara tersebut juga menghadirkan sosok Michael Octavian, figur yang dikenal publik karena transformasi hidupnya. Ia pernah bekerja sebagai manusia silver di kawasan Kemayoran sebelum berpindah ke wilayah Pintu Air, Pasar Baru. Setelah viral sebagai talent dalam sejumlah video make over, Michael kini menekuni dunia modeling secara profesional.
Kehadirannya dinilai merepresentasikan wajah baru Pasar Baru sebagai ruang yang tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga memberi peluang masa depan bagi warga urban kreatif. Michael sendiri menilai Pasar Baru sebagai kawasan multikultural yang layak dikembangkan sebagai destinasi wisata. (cha)


