JAKARTA – Pameran internasional RailwayTech Indonesia 2025 digelar pada 29-31 Juli 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Memasuki edisi ke-7, ajang yang digelar oleh GEM Indonesia bersama Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (MASKA) serta didukung Kementerian Perhubungan ini kembali menjadi panggung utama di ASEAN dalam menghadirkan solusi dan teknologi terkini sektor transportasi rel.
Lebih dari 250 peserta dari 25 negara ambil bagian dalam pameran ini. Mereka menampilkan berbagai inovasi teknologi perkeretaapian, mulai dari sistem pengoperasian mutakhir, komponen & suku cadang, hingga infrastruktur penunjang.
Tidak sekadar pameran, RailwayTech juga menjadi forum strategis B2B (business to business) dan B2G (business to government) yang membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan pemangku kebijakan.
Dengan tema “Memperkuat Kolaborasi Lintas Sektor”, acara ini diharapkan menjadi katalis sinergi antara inovasi teknologi dan kebijakan publik untuk mendorong mobilitas berkelanjutan dan lebih modern.
Dalam sambutannya saat membuka RailwayTech Indonesia 2025 dan Inamarine 2025, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan pentingnya sektor transportasi, khususnya kereta api dan maritim, sebagai fondasi pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
“Transportasi bukan hanya soal konektivitas fisik, tetapi juga soal pemerataan pembangunan, efisiensi logistik, dan keberlanjutan lingkungan. Karena itu, sektor ini menjadi prioritas strategis pemerintah,” tegas AHY.
Maket Stasiun Lintas Rel Terpadu (LRT) dipamerkan dalam RailwayTech Indonesia 2025 di JIExpo Kemayoran, menampilkan konsep integrasi antarmoda di kawasan perkotaan. (Foto: Event Nusantara)
Ia menyoroti tiga keunggulan utama sistem perkeretaapian nasional: kapasitas besar dan ketepatan waktu, efisiensi energi, serta ramah lingkungan.
Sebagai contoh, kereta barang dapat menggantikan hingga 300 truk, sementara kereta penumpang mampu mengangkut lebih dari 1.000 orang. Saat arus mudik Lebaran 2025, tingkat ketepatan waktu keberangkatan mencapai 99,69%, dan 97,23% untuk kedatangan.
Dari sisi efisiensi, kereta api menempuh 200 km per liter bahan bakar, jauh lebih hemat dibanding truk yang hanya 57 km per liter. Berdasarkan Asian Transport Outlook 2024, sektor perkeretaapian juga hampir tidak menyumbang emisi karbon, berbanding jauh dengan transportasi darat (89,7%), laut (5,5%), dan udara (4,8%).
“Kereta api adalah moda masa depan yang cerdas dan bersih. Ini adalah peluang besar untuk mendukung target net-zero Indonesia pada 2060,” kata AHY.
Pemerintah sendiri juga sedang menyusun RUU Sistem Transportasi Nasional (Sistranas) untuk menyatukan 12 undang-undang dan puluhan regulasi menjadi satu kerangka hukum terpadu. Tujuannya mendorong integrasi antarmoda, efisiensi logistik, serta pertumbuhan ekonomi yang merata, khususnya di wilayah timur Indonesia.
Selain itu, AHY menegaskan dukungan Presiden Prabowo Subianto terhadap proyek perpanjangan Kereta Cepat Jakarta-Surabaya sebagai bagian dari visi besar Indonesia dalam membangun sistem transportasi bersih dan cepat di Pulau Jawa.
Miniatur rangkaian Electric Multiple Unit (EMU) atau kereta rel listrik yang dikenal dengan nama “Whoosh” yang digunakan untuk layanan Kereta Cepat Jakarta–Bandung turut ditampilkan dalam pameran RailwayTech Indonesia 2025. (Foto: Event Nusantara)
Ketua MASKA, Hermanto Dwiatmoko mengapresiasi konsistensi pemerintah dan industri dalam memodernisasi transportasi rel. “Sejak 2017, MASKA bersama GEM Indonesia menjadikan Railwaytech sebagai platform tahunan untuk mempertemukan seluruh pemangku kepentingan transportasi rel dalam satu ruang inovasi,” ujarnya.
Sementara Direktur PT Global Expo Management (GEM) Indonesia, Baki Lee, turut menegaskan pentingnya kolaborasi sektor transportasi rel dan maritim dalam era transisi energi dan integrasi logistik. “Transportasi rel dan laut harus tumbuh bersama. Kami ingin membangun jembatan antara teknologi, kebijakan, dan pasar,” ujarnya.
Dengan menampilkan tren global seperti kereta berkecepatan tinggi, penggunaan energi rendah emisi seperti hidrogen, hingga elektrifikasi jalur, RailwayTech Indonesia 2025 menegaskan perannya sebagai pendorong utama masa depan transportasi berkelanjutan dan modern di Asia Tenggara. (fs)


