YOGYAKARTA – Selama tiga hari, Jogja Expo Center (JEC) berubah menjadi “lumbung aroma” kopi. Ratusan booth, ribuan pengunjung, dan segelas demi segelas seduhan menandai hadirnya Jogja Coffee Week (JCW) ke-5, pesta kopi yang lebih mirip perayaan budaya ketimbang sekadar pameran dagang.
“Sejak 2019, Jogja Coffee Week selalu menjadi jembatan. Bukan hanya antara petani dan industri, tapi juga barista dan penikmat kopi,” terang R Rahadi Saptata Abra, selaku CEO JCW kepada Event Nusantara, Selasa (9/9/2025).
JCW yang berlangsung pada 5-7 September 2025 menampung 170 booth dengan lebih dari 500 brand dari seluruh penjuru Nusantara, bahkan dari Papua pun ikut meramaikan. Pria yang akrab disapa Abra ini, menjelaskan JCW lebih mengedepankan format Business-to-Business (B2B) dan Business-to-Consumer (B2C).
“Di dalam event kami semua kumpul menjadi satu. Ada petani yang menjajakan green bean, roaster yang memperkenalkan hasil panggangannya, UMKM yang menawarkan kemasan kreatif, hingga produsen mesin kopi kelas berat,” ujar Abra.
Pengunjung memadati hall utama Jogja Expo Center (JEC) pada gelaran Jogja Coffee Week 2025. (Foto : Istimewa)
Tak hanya kopi, ada juga deretan booth teh. Sebanyak 16 stan menyajikan teh rempah, teh rasa buah, hingga teh ramuan unik. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan sinyal bahwa gaya hidup minum juga kian beragam di Jogja.
Jika pameran disebut sebagai panggung utama, maka kompetisi menjadi denyut nadi yang menjaga semarak acara. Total ada 9 kompetisi yang digelar dalam JCW 2025. Dimana 7 di antaranya berkaitan dengan kopi.
“Salah satu yang paling ditunggu adalah Green Bean Competition, ajang unjuk kualitas biji kopi hijau terbaik. Kompetisi ini diikuti 150 peserta,” sebut Abra.
Di Jogja, kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup, bukan sekadar tren sesaat.(Foto : Istimewa)
Dua kategori, Arabika dan Robusta, diperlombakan. Sepuluh besar dari tiap kategori kemudian dilelang pada malam penutupan.
Selain itu, ada juga lomba roasting, brewers, cupping test, hingga Barista Innovation Challenge. Tak ketinggalan, ada pula flavor battle dan mixology tea yang tidak kalah meriah. Para peserta saling “adu skill” memperlihatkan kreativitas baru dalam meracik rasa.
Abra membeberkan beberapa cerita menarik yang banyak datang dari para tenant. Salah satunya, booth VIP dari Jakarta yang awalnya menargetkan 600 pre-order (PO) selama tiga hari. Tapi, baru hari kedua sudah mencapai 550 PO.
“Hari kedua saja sudah melampaui target, sudah bisa ketebak hingga hari ketiga pencapaiannya mungkin sudah 800 PO. Maka nggak heran juga mereka langsung memesan booth lebih besar untuk tahun depan,” ujar Abra.
JCW 2025 berhasil mempertemukan petani, roaster, hingga produsen mesin kopi dalam satu ruang. (Foto : Istimewa)
Abra juga menceritakan bahwa banyak pihak yang pesimistis dengan penjualan salah satu brand sirup premium pada JCW 2025. Pasalnya, produk dengan harga di atas Rp200 ribu dianggap terlalu mahal untuk kondisi pasar Jogja. Namun nyatanya, tak disangka pada hari kedua justru stok ludes terjual.
“Banyak yang mengira Jogja tidak siap dengan produk premium. Ternyata banyak pembeli diam-diam berduit. Mereka tidak pamer, tapi ternyata daya belinya tinggi,” ungkap Abra sambil tertawa heran.
Selain itu, lanjut Abra, yang tak kalah menarik adalah terdapat salah satu tenant penjual peralatan kopi skala kecil, malah kewalahan melayani tingginya animo pengunjung.
“Booth mereka beberapa kali harus ditutup sementara hanya untuk loading ulang stok dari mobil. Tapi anehnya, pengunjung atau pembeli tetap dengan sabar menunggu meski harus mengantre,” tuturnya.

Kopi sebagai Lifestyle, Bukan Sekadar Minuman
Di balik transaksi, ada kisah unik yang terungkap dalam event JCW 2025. Ternyata, kopi di Jogja telah menjadi gaya hidup. Menurut Abra, coffee shop telah tumbuh pesat. Bahkan saat pandemi, menjadi satu-satunya sektor F&B (Food & Beverage) yang justru meningkat di Jogja.
Anak muda menjadikan kafe sebagai ruang pertemuan, sementara keluarga dan pekerja datang berkelompok untuk bekerja atau sekadar kumpul santai bersama. Bedanya dengan kota lain, lanjut Abra, di Jogja kopi tak selalu harus dipamerkan. Banyak pengunjung datang membeli biji untuk diseduh sendiri di rumah.
“Ngopi itu sudah jadi kebiasaan, bagian dari keseharian. Tidak harus nongkrong di mal, di rumah pun bisa,” kata Abra.
Abra menerangkan dibanding 2024, skala JCW meningkat drastis. Kompetisi naik dari 4 menjadi 9, hall pameran dari 1 menjadi 2, dan panggung dari 1 menjadi 3. Jumlah booth pun melesat dari 110 menjadi 170.
“Banyak yang mencibir bahwa padatnya kehadiran pengunjung karena efek long weekend. Padahal mayoritas adalah kopi enthusiast dari berbagai daerah yang memang datang khusus untuk Jogja Coffee Week dan banyak juga komunitas yang hadir karena menunjukkan daya tarik JCW,” paparnya.
Meski Gubernur DIY batal hadir karena agenda Grebeg Maulud Keraton Jogja 2025 dalam rangka perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, acara JCW tetap penuh sesak hingga hari terakhir. Biji kopi terbaik terjual, booth ludes, dan diperkirakan transaksi miliaran rupiah mengalir.
Lebih dari sekadar pameran, Jogja Coffee Week 2025 diakui mampu menunjukkan bagaimana kopi bisa jadi simbol menyatukan petani dan pebisnis, budaya dan gaya hidup, Jogja dan dunia. “Jogja punya kekuatan unik. Di sini, kopi bukan hanya minuman, tapi cara orang hidup dan saling berkoneksi,” pungkas Abra. (cha)


