TERNATE – Ternate kembali menegaskan posisinya sebagai pusat rempah dunia melalui penyelenggaraan Ternate Gastronomy Festival 2025 di Benteng Oranje, Selasa (23/12/2025) dan Rabu (24/12/2025). Festival ini salah satu rangkaian Hari Jadi Ternate (HAJAT) ke-775, sekaligus momentum penguatan city branding Ternate sebagai Kota Rempah.
Selain itu, Festival ini juga menjadi ruang perjumpaan budaya, kuliner, dan sejarah rempah Ternate yang dikemas dalam konsep living museum, memadukan kekayaan sejarah empat Kesultanan dengan inovasi cita rasa masa kini.
Festival secara resmi dibuka Wali Kota Ternate HM Tauhid Soleman, bersama Wakil Wali Kota Nasri Abubakar serta Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Ternate Rizal Marsaoly yang ditandai dengan pemukulan dolo-dolo. Selain itu, hadir Ketua TP PKK Kota Ternate Marliza Tauhid, Ketua DWP Kota Ternate Hasmiati Rizal, dan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Ternate Muslim Gani.
Mengusung tema “Perempuan dan Rempah”, yang menyoroti peran perempuan dalam sejarah, pengelolaan, dan pewarisan budaya rempah di Ternate. Tema ini diterjemahkan ke dalam pengalaman gastronomi holistik melalui berbagai program unggulan, seperti Teater Kuliner, Live Cooking Demo, Food for Thoughts, hingga Spice Trip. Seluruh rangkaian kegiatan menjadi ruang kolaborasi lintas sektor yang melibatkan petani, sejarawan, komunitas kreatif, dan pelaku UMKM.
Pembukaan Ternate Gastronomi Festival oleh Wali Kota Ternate HM Tauhid Soleman bersama Wakil Wali Kota Ternate Nasri Abubakar dan Sekda Kota Ternate H Rizal Marsaoly, Selasa (23/12/2025). (Foto: Pemkot Ternate)
Dalam sambutannya, Sekda Kota Ternate HM Rizal Marsaoly selaku pembina kegiatan menjelaskan Ternate Gastronomy Festival 2025 merupakan hasil kurasi dari berbagai inisiatif komunitas lokal yang telah diinkubasi Pemerintah Kota Ternate sejak tahun 2024. Proses ini dilakukan secara terstruktur untuk membangun ekosistem rempah yang berkelanjutan.
Sepanjang 2025, penguatan city branding Kota Rempah diwujudkan melalui tiga event utama di tiga kecamatan. Di Kecamatan Ternate Selatan digelar “Pesta di Selatan”, yang menonjolkan inovasi papeda instan dan berlangsung selama lima hari. Di Kecamatan Ternate Tengah diselenggarakan “Pesta Gastronomi”, yang menampilkan racikan kuliner berbasis rempah asli Ternate.
“Sementara di Kecamatan Ternate Utara, dilaksanakan “Glowing Padaka”, yang mengangkat pemanfaatan rempah dalam produk kecantikan, jamu, dan perawatan kesehatan, difasilitasi oleh komunitas Ake Gaale,” ujar Rizal Marsaoly.
Sekda menegaskan seluruh rangkaian kegiatan tersebut memiliki tujuan jangka panjang yang terukur. “Tujuan akhirnya adalah membangun ekosistem Kota Rempah yang berkelanjutan sesuai dengan roadmap yang sedang kami susun. Kami ingin memastikan rempah menjadi bahan baku utama dalam berbagai sektor, mulai dari kuliner, kosmetik, pengobatan, hingga industri rumah tangga,” jelasnya.
Sementara, Wali Kota Ternate HM Tauhid Soleman menegaskan gastronomi bukan sekadar aktivitas kuliner, melainkan refleksi sejarah panjang dan identitas budaya Ternate sebagai pusat perdagangan rempah dunia.
“Gastronomi dan kuliner berbasis rempah adalah identitas sejarah kita. Festival ini tidak hanya mempromosikan makanan lokal, tetapi menjadi ruang penguatan ekonomi kreatif, UMKM, dan promosi pariwisata yang bertumpu pada akar budaya Ternate,” tegas Wali Kota.
Wali Kota menyampaikan penguatan identitas Kota Rempah saat ini terus dikonsolidasikan melalui berbagai agenda strategis, termasuk rencana penerbitan buku oleh Lemhanas pada awal 2026 berjudul Mendaratkan Asta Cita di Kota Rempah, yang mengulas keunggulan Ternate sebagai kota dengan karakter dan daya saing khas.
“Kita ingin Ternate tumbuh dengan identitasnya sendiri, yang menghidupkan masyarakat melalui kreativitas komunitas lokal. Meski tidak memiliki tambang nikel atau emas, Ternate memiliki keunggulan rempah dan budaya yang tidak dimiliki daerah lain di Maluku Utara,” terangnya.
Menurut Wali Kota, ke depan Ternate tidak hanya akan dikenal sebagai Kota Rempah, tetapi juga diarahkan menjadi Kota Gastronomi, terutama dengan adanya agenda Rapat Kerja Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang akan digelar di Ternate pada tahun 2026.
“Momentum JKPI akan kita manfaatkan untuk memperkuat posisi Ternate sebagai kota gastronomi utama di Indonesia bagian Timur,” ungkapnya.
Pemerintah Kota Ternate berharap sinergi antara komunitas kreatif, pelaku UMKM, dan pemerintah daerah dapat terus terjaga secara konsisten. Melalui pendekatan kolaboratif ini, program Kota Rempah dan Gastronomi diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat, sekaligus memperkuat posisi Ternate sebagai kota berbasis warisan budaya yang relevan dengan tantangan masa depan.
Sebelumnya, Ternate Gastronomy Festival 2025 digelar pada 16-17 Desember 2025 dengan rangkaian kegiatan yang meliputi demo masak, teater kuliner, nostalgia jajanan tradisional Maluku Utara, food for thoughts, pentas makanan jalanan, pemutaran film, pasar makanan dan minuman, Malut Artisan Market, pentas musik, Malut & Rorano, serta Spice Trip.
Festival ini melibatkan berbagai komunitas dan pelaku budaya lokal, di antaranya Ngom Ngaruha, Kagounga, Glowing With Badaka, The Golden Boys, Talupa Group, Stranger Things, Pukat, Benang Merah, dan Beda Basudara, sebagai bentuk kolaborasi nyata dalam menjaga dan menghidupkan ekosistem Kota Rempah Ternate. (*/en)


