“Wastra Cinta Nusantara”, Pesan Budaya dari Hastana Wedding Expo

Related Articles

YOGYAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk pameran pernikahan modern, Hastana Wedding Expo (HWE) 2025 menghadirkan sentuhan berbeda. Tahun ini, pameran yang digelar di Sleman City Hall pada 7-9 November 2025 mengusung tema besar “Wastra Cinta Nusantara”, sebuah ajakan untuk kembali menengok makna kain tradisional dalam perjalanan hidup manusia Indonesia.

Ketua Hastana Indonesia DPW DI Yogyakarta, Dendi B Prasetyo, menjelaskan istilah wastra berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti kain. Melalui tema ini, Hastana ingin mengangkat kekayaan kain Nusantara, khususnya batik dan wastra khas Yogyakarta, sebagai bagian penting dalam budaya dan kehidupan masyarakat.

“Wastra itu bukan sekadar kain, tapi basahan kehidupan. Di Jogja, setiap fase kehidupan manusia – dari lahir, menikah, hingga meninggal – punya motif batik tersendiri. Dan itu yang kami coba hadirkan di HWE 2025,” ungkap Dendi kepada Event Nusantara, Selasa (11/11/2025).

Deretan kain batik klasik Yogyakarta yang dikenakan para pengisi acara dan wastra dari berbagai daerah Nusantara  dalam Hastana Wedding Expo 2025. (Foto: Istimewa)

 

Baca Juga:   Beragam Mainan dalam Jakarta Toys & Comics Fair 2022

Sebagai bentuk edukasi budaya, Hastana menghadirkan tiga titik utama pameran edukatif dalam event kali ini. Pertama, “Wastra Daur Hidup”, yang menampilkan berbagai kain batik sesuai tahapan kehidupan manusia Jawa mulai dari batik kelahiran, pernikahan, hingga batik penutup jenazah.

Kedua, “Wastra Loka”, yang memperkenalkan kain batik yang digunakan dalam upacara tujuh bulanan kehamilan (mitoni atau pantes-pantes). Dalam budaya Jawa, upacara ini menggunakan tujuh jenis kain dengan makna dan filosofi masing-masing.

Dan ketiga, area “Proses Batik Tulis”, yang memperlihatkan bagaimana batik dibuat secara tradisional mulai dari nyore (mencanting malam) hingga nglorot (meluruhkan malam dari kain).

“Banyak orang tahu batik hanya dari hasil jadinya, tapi tidak tahu proses panjangnya. Kami ingin pengunjung memahami nilai kerja dan budaya di balik setiap lembar kain batik,” tutur Dendi.

Sesi dialog bersama Ketua Umum Hastana Indonesia dan narasumber lainnya dalam membahas Wastra Nusantara. (Foto: Istimewa)

 

Meski mengangkat tema yang terbilang spesifik, antusiasme pengunjung ternyata cukup tinggi. Banyak yang berhenti lama di area edukasi untuk membaca dan memahami makna tiap motif batik yang ditampilkan.

Baca Juga:   Jelang Hari Terakhir, IIMS 2023 Bukukan Rp 3,2 Triliun

“Ada pengunjung yang bilang baru tahu kalau setiap tahap kehidupan punya kainnya sendiri. Mereka membaca satu per satu penjelasan di area pameran. Artinya, pesan edukasi kami tersampaikan,” kata Dendi dengan bangga.

Berbeda dari pameran pada umumnya, Hastana tidak menjual kain-kain tersebut. Fokusnya adalah memberikan pemahaman dan pelestarian budaya, sejalan dengan posisi Hastana sebagai pengampu dan penggerak industri pernikahan yang berakar pada kearifan lokal.

“Kami di Hastana punya tanggung jawab moral untuk menjaga akar budaya. Jadi bukan jualan kain, tapi memberikan ruang edukasi agar masyarakat paham nilai dan makna di balik wastra,” tutup Dendi. (cha)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img